Jakarta, DIGISTRA News - Guna memperluas aksesibilitas pada pendidikan berkualitas tinggi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merancang Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Langkah strategis ini digagas sebagai upaya menghadirkan satuan pendidikan berstandar nasional yang terpadu sekaligus difungsikan sebagai pusat penggerak mutu pendidikan di berbagai pelosok daerah.
Gagasan SNT ini merupakan mandat dari Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Program Sekolah Nasional Terintegrasi. Pemerintah menetapkan target pembangunan 500 titik layanan SNT secara bertahap hingga kurun 2029. Khusus pada tahun 2026, persiapan fisik dilakukan di 37 lokasi. Dari jumlah tersebut, 17 lokasi diproyeksikan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran 2026/2027, sementara 20 titik sisanya masuk masa konstruksi tahun ini dan dijadwalkan menyerap murid baru pada 2027. Pemilihan lokasi diproses secara berjenjang melalui mekanisme usulan, analisis dokumen, verifikasi lapangan, serta pencocokan kesiapan lahan dengan pemerintah daerah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa SNT bukan sekadar mendirikan fisik bangunan baru, melainkan menghadirkan layanan pendidikan bermutu yang lebih dekat dengan masyarakat serta berfungsi sebagai pusat pertumbuhan kualitas pendidikan di daerah.
“SNT merupakan ikhtiar negara untuk mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah, mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta murid secara optimal, serta menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya,” ujar Mendikdasmen di Jakarta, Senin (20/7).
Sistem SNT meleburkan jenjang SMP dan SMA ke dalam satu ekosistem pendidikan yang berkesinambungan. Penyatuan ini tak hanya menyangkut tingkatan dan fisik gedung, namun juga mencakup pola pembelajaran, pembinaan guru, pembentukan karakter, penggalian potensi talenta, pemanfaatan fasilitas bersama, hingga skema penjaminan mutu.
Penyelenggaraan SNT berlandaskan pada tiga pilar perubahan utama: transformasi infrastruktur, transformasi sumber daya manusia, serta transformasi karakter dan pembelajaran. Mendikdasmen pun mewanti-wanti bahwa SNT tidak didesain sebagai sekolah terisolasi yang tumbuh sendiri, melainkan sebagai kran pemerataan bagi sekolah-sekolah sekitarnya. SNT wajib memosisikan diri sebagai mitra melalui laboratorium pembelajaran bersama, berbagai fasilitas, pengimbasan praktik baik, pendampingan institusional, hingga peningkatan kapabilitas guru secara berkelanjutan.
“Keberhasilan SNT tidak hanya diukur dari capaian murid yang belajar di dalamnya, melainkan juga diukur dari semakin banyaknya guru yang berkembang keprofesioannya, meningkatnya sekolah yang saling berkolaborasi, dan bertumbuhnya mutu pendidikan di wilayah tersebut,” tegas Mendikdasmen.
Untuk menopang operasional 17 SNT yang meluncur pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah sudah menyiapkan ruang kelas transisi di bangunan baru seperti Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen, maupun fasilitas lokal persembahan pemda. Di samping itu, calon murid yang diterima diprioritaskan berasal dari kawasan sekitar SNT agar benar-benar memberikan dampak langsung bagi warga lokal.
Rangkaian Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) dipastikan berjalan objektif, transparan, inklusif, adil, dan akuntabel. Tahapan seleksi diagendakan pada 21–24 Juli 2026, pengumuman kelulusan digelar 3 Agustus 2026, dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan dimulai 10 Agustus 2026.
Mendikdasmen mengimbau masyarakat untuk selalu memantau info valid SNT melalui saluran resmi Kemendikdasmen, pemda, dinas pendidikan, atau portal resmi SNT. Ia juga memperingatkan bahwa tidak ada oknum yang bisa menjanjikan kelulusan atau mengambil keuntungan dari proses penerimaan murid di luar regulasi.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, menerangkan bahwa SNT dirancang untuk menyokong potensi murid secara paripurna lewat sederet fasilitas modern, mencakup smart classroom, green school, laboratorium lengkap, future library and learning commons, studio seni kreatif, pusat pengembangan guru, kompleks olahraga, hingga armada angkutan antar-jemput internal wilayah.
Di samping itu, SNT bakal mengusung kurikulum tiga lapis: kurikulum nasional sebagai pondasi dasar, kurikulum kekhasan sekolah sebagai penguat, serta kurikulum berbasis kearifan lokal yang disesuaikan dengan profil daerah. Lewat skema ini, tiap SNT bakal punya keunggulan tersendiri, seperti fokus pada sektor pertanian, kelautan, coding dan AI, atau potensi unggulan wilayah lainnya.
“Nantinya setiap SNT memiliki kekhasan sesuai potensi daerah masing-masing. Pendekatan pembelajaran berbasis STEAMS dipadukan dengan pembelajaran mendalam yang didukung oleh digitalisasi pembelajaran dan pengayaan tingkat global,” jelas Gogot.
Senada dengan hal itu, Deputi III Kantor Staf Presiden, Yan Hiksas, menegaskan dukungan penuh terhadap Program Sekolah Nasional Terintegrasi. Bagi pihaknya, agenda ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam mencetak SDM unggul berdaya saing global. Ia meyakini dari SNT akan lahir lulusan yang sanggup menembus universitas top dunia dan menjadi pemain di panggung peradaban global.
“Kita yakin bahwa Indonesia ke depan tidak hanya mengandalkan sumber daya alam yang melimpah, tapi juga adalah sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, yang tentu saja saya yakin akan disepersiapkan dalam sekolah nasional terintegrasi,” pungkasnya.